Kamis, 07 Juni 2012

MENGAPA MANUSIA HARUS BELAJAR


MENGAPA MANUSIA HARUS BELAJAR?
Oleh: Daryo Susmanto

Pertanyaan yang tersebut dalam judul ini sepertinya mudah dijawab. Namun, ternyata diperlukan sebuah pemahaman luas dan mendalam sebelum menjawabnya. Pun, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan sebuah proses “belajar” seperti yang dimaksud dalam pertanyaan tersebut. Lalu, apa itu belajar dan mengapa manusia harus belajar? Sebagai jawaban awal atas pertanyaan tersebut, saya melihat sekelompok anak kecil sedang bermain sebagai mikroproyek. Kadang-kadang mereka rukun kadang mereka berengkar. Mereka rukun manakala aturan-aturan atau ide-ide bermain mereka pahami bersama dan disepakati bersama. Mereka bertengkar manakala ada aturan atau ketidaksesuaian ide di antara mereka. Dalam proses bertengkar disitulah ada proses belajar, baik belajar memahami aturan main, belajar memahami orang (teman) lain, maupun belajar menyelesaikan permasalahan tanpa mereka sadari itu sebagai proses belajar. Ketika mereka menemukan kesamaan ide atau aturan bermain dan kemudian mereka saling memahami satu sama lain maka akan tercipta kerukunan kembali. Nah keadaan rukun atau akur kembali itulah sebagai salah satu hasil dari proses belajar tadi.
Hal lain yang berkaitan dengan belajar adalah saya mengingat-ingat anak sendiri dari waktu lahir sampai sekarang. Bagaimana ia belajar (diajar) berbicara, belajar mengenal dirinya, saudaranya, keluarganya sampai lingkungan sekitarnya, belajar cara-cara berpakaian yang baik, cara-cara makan yang baik, dan bagaimana belajar yang baik. Setelah bermain dengan teman sepermainannya, ia akan banyak belajar termasuk belajar hal-hal yang dianggap menyimpang, misalnya kata-kata yang kasar dan sebagainya.
Dari kedua ilustrasi tersebut, lalu mengapa manusia harus belajar? Namun, sebelum menjawab mengapa manusia belajar, ada baiknya kita pahami sedikit konsepsi manusia itu sendiri.
Konsepsi Manusia
Mengapa konsep manusia didulukan? Hal ini karena subyek dari pertanyaan ini adalah manusia, bukan hewan atau lainnya. Dalam sebuah refenesi (http://id.wikipedia.org), manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran.
Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Menurut pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah Swt, berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan dan berbeda dengan makhluk lainnya karena manusia memiliki akal. Mengenai kelebihan manusia atas makhluk lainnya dijelaskan dalam Al-Quran surah al-Israa’: 70.
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Israa’ [17]: 70)
Dalam surah yang lain, Allah juga berfirman mengenai kelebihan manusia dan berkaitan juga dengan konsep manusia yang berakal.
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar [39]: 21).
Apa Itu Belajar
Dalam pengertian umum, belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan.  Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru, baik guru secara formal maupun dalam pengertian informal.
Menurut Thorndike, belajar dapat dilakukan dengan mencoba– coba (trial and error). Mencoba – coba ini dilakukan, manakala seseorang tidak tahu bagaimana harus memberikan respon atas sesuatu. Dalam mencoba – coba ini seseorang mungkin akan menemukan respons yang tepat berkaitan dengan persoalan yang dihadapinya. Adapun menurut psikologi kognitif, belajar adalah suatu usaha untuk mengerti tentang sesuatu. Usaha untuk mengerti tentang sesuatu tersebut, dilakukan secara aktif oleh pembelajar. Keaktifan tersebut dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan, mengabaikan dan respon – respon lainnya guna mencapai tujuan.
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian dan tingkah laku manusia dalam bentuk kebiasaan, penguasaan pengetahuan atau ketrampilan, dan sikap berdasarkan latihan dan pengalaman dalam mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan untuk mengumpulkan pengetahuan–pengetahuan melalui pemahaman, penguasaan, ingatan, dan pengungkapan kembali di waktu yang akan datang. Belajar berlangsung terus–menerus dan tidak boleh dipaksakan tetapi dibiarkan belajar bebas dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.
Manusia Harus Belajar
Ya, mengapa manusia harus belajar. Hal ini karena belajar merupakan salah satu kebutuhan manusia. Bahkan ada ahli yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar. Oleh karena manusia adalah makhluk belajar, maka sebenarnya di dalam dirinya terdapat potensi untuk diajar. Pada masa sekarang ini, belajar menjadi sesuatu yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan, belajar adalah sebuah kewajiban juga.
Di dalam pandangan Islam, belajar atau secara umumnya pendidikan merupakan kegiatan yang diwajibkan bagi setiap muslim, baik pria maupun wanita. Pendidikan juga berlangsung seumur hidup, tidak mengenal batas usia.
Intinya, dengan belajar manusia dapat berubah. Perubahan yang dimaksud bergantung terhadap apa yang dipelajarinya. Jika manusia belajar kebenaran dan kebaikan, maka ia akan berubah menjadi manusia yang benar dan penuh kebaikan. Jika ia belajar ketidakbenaran dan kejelekan, maka ia akan berubah menjadi manusia yang penuh dengan kemaksiatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar