Beranda

Senin, 04 Juni 2012

Titik Balik Peradaban


Dasar Argumen Pendapat Fritjof Capra tentang Titik Balik Peradaban 
sebagai Akibat dari Epistemology Cartesian Newtonian.

Fritjof Capra memaparkan bahwa saat ini manusia tengah mengalami titik balik peradaban. Ini terlihat dari menurunnya kemampuan modernitas dalam mencapai tujuan kemanusiaan. Satu gerak yang terbarengi oleh dahaga spiritual dan kesadaran ekologis atas tata hidup kita yang menjadi penyempurna kemanusiaan tersebut. Modernitas yang pada awalnya menjadi alternatif tak mampu lagi mengangkat kemanusiaan karena telah melenceng dari prinsip dasar kebudayaan. Telah terjadi krisis multidimensional, yaitu dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spriritual yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah perjalanan umat manusia. Kini dimensi tersebut telah melahirkan berbagai fenomena sosial dan masyarakat pada tingkat yang sangat memprihatinkan seperti kejahatan tindak kekerasan, kecelakaan, bunuh diri, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, cacat mental, penyakit kejiwaan dan sebagainya. Dampak krisis terhadap lingkungan berupa pencemaran akibat limbah kimia dan nuklir sebagaimana terjadi di negara-negara maju.
Fritjof Capra berargumen bahwa kepercayaan ala Descartes pada kebenaran ilmiah masih tersebar luas pada saat ini tercermin dalam “scientism” yang telah menjadi ciri kebudayaan barat. Penerimaan pandangan Cartesian sebagai kebenaran mutlak dan sebagai satu-satunya cara shahih bagi pengetahuan telah memainkan peranan penting dalam menghasilkan ketidakseimbangan budaya manusia sampati saat ini. Selanjutnya, Capra mengatakan bahwa antara tahun 1500 dan 1700 itu terdapat satu perubahan dramatis pada cara manusia dalam menggambarkan duniannya dan cara berpikir mereka. Sebelum tahun 1500 pandangan dunia di eropa dan sebagian peradaban lain bersifat organik, ditandai dengan saling ketergantungan antara fenomena spiritual dan fenomena material dan prinsip bahwa kebutuhan masyarakat umum lebih utama daripada kepentingan pribadi.
Pandangan abad pertengahan itu berubah secara mendasar pada abad keenam belas dan ketujuh belas. Pengertian alam semesta yang berbentuk organik digantikan oleh pengertian bahwa dunia laksana sebuah mesin, dan mesin dunia itu kemudian menjadi metafora yang dominan pada jaman modern. Perkembangan ini diakibatkan oleh perubahan-perubahan revolusioner dalam ilmu fisika dan astronomi yang puncaknya pada prestasi yang dicapai oleh Copernicus, Galileo, dan Newton. Fritjof Capra mengemukakan bahwa krisis-krisis global tersebut dapat dilacak pada cara pandang dunia manusia modern. Pandangan dunia yang diterapkan selama ini adalah pandangan dunia mekanistik-linier Cartesian dan Newtonian (disebut sebagai Paradigma Cartesian-Newtonian). Nah, epistemology Cartesian-Newtonian inilah yang menurut Fritjof Capra sebagai penyebab kemunduran peradaban, yakni ketika terjadinya pemisahan antara jiwa dan raga (ruh dan materi) dari suatu pengetahuan serta ketika diyakini bahwa kehidupan di bumi (dunia) ini seperti mesin.
      Solusi Menyelamatkan Peradaban Manusia Dewasa Ini
            Solusi untuk menyelamatkan peradaban dunia menurut saya adalah perlu dilakukan perubahan pada paradigma Cartesian-Newtonian. Memang di satu sisi, Descartes dan Newton telah berhasil memajukan ilmu pengetahuan (sains) khususnya fisika dan teknologi. Namun, di sisi lain nilai-nilai sosial dan nilai-nilai lingkungan telah terabaikan, sehingga terjadi titik balik peradaban. Oleh karena itu, diperlukan sebuah paradigma baru yang meliputi visi baru tentang realitas, perubahan yang mendasar pada pemikiran perubahan persepsi dan perubahan nilai budaya selama ini. Diperlukan perubahan paradigma dalam menghadapi suatu realitas, bahwa segala sesuatu yang ada di bumi/dunia ini saling berhubungan kalau tidak dikatakan saling bergantung. Tidak ada pemisahan yang tegas antara jiwa dan raga, tidak ada pemisahan fisik dan mental.
            Sebagai orang yang berkutat dalam dunia pendidikan, kita juga jangan sampai terjebak pada paradigma epsitemologi Cartesian-Newtonian. Mengapa? Karena paradigma seperti itu telah melahirkan berbagai persoalan yang sangat mendasar bagi pengembangan anak bangsa, khususnya yang paling terasa ialah telah lahirnya generasi (output pendidikan) yang berkepribadian instrumentalistik, materialistik, terkotak-kotak dan sempit serta terbatas, dan sangat lemah dari segi karakter dan kepribadian bangsa dan agama. Oleh karena itu, saya sependapat dengan Syaifuddin Sabda bahwa salah satu alternatif paradigma yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan saat ini adalah paradigma pendidikan yang holistik, yaitu pendidikan yang dibangun berdasarkan asumsi connectedness, wholeness dan being fully human atau paradigma pendidikan yang memandang pendidikan sebagai sebuah usaha sadar untuk mengembangkan potensi manusia (anak didik) sesuai dengan potensinya masing-masing sebagai manusia yang unik dan holistik (jasmani dan rohani yang merupakan kesatuan) sebagai ciptaan Allah yang sempurna.

Sumber Bacaan
Ahmad Sofyan. 2002.  Titik Balik Peradaban. http://ahmad.sofyan.web.id.
Anonim. Bom Waktu Beracun Mengancam Anda. http://www.unhas.ac.id.
Iden Wildensyah. 2011.  Menjawab Kritik Profesor. http://filsafat.kompasiana.com.
Iim Al Imron. 2009. Titik Balik Peradaban. http://iimrsch.wordpress.com.
Syaifuddin Sabda. Paradigma Pendidikan Holistik. http://www.docstoc.com. 
Zulvalle. Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan. http://id.shvoong.com.

Pendekatan Deduktif, Induktif, Rasionalisme, dan Empirisme


Pendekatan Deduktif, Induktif, Rasionalisme, dan Empirisme
Pendekatan deduktif kerap dikontraskan dengan pendekatan induktif. Pendekatan Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Dari segi bahasa, deduktif atau deduksi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu deduction yang artinya penarikan kesimpulan-kesimpulan dari keadaan-keadaan umum atau menemukan yang khusus dari yang umum. Pendekatan deduktif juga diartikan sebagai cara berpikir dimana pernyataan yang bersifat umum ditarik suatu kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan dalam pendekatan deduktif biasanya menggunakan pola pikir silogisme yang secara sederhana digambarkan dalam penyusunan dua buah pernyataan (premis mayor dan premis minor) dan sebuah kesimpulan.
Pendekatan Induktif merupakan pendekatan yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke hal umum. Hukum yang disimpulkan pada fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Berpikir induktif adalah bentuk dari apa yang disebut generalisasi. Induksi (induction) adalah cara mempelajarai sesuatu yang bertolak dari hal-hal khusus untuk menentukan hukum atau hal yang bersifat umum. Metode berpikir induktif merupakan cara berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Oleh karena itu, penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang khusus dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Rasionalisme merupakan suatu paham yang mengutamakan rasio. Paham ini beranggapan bahwa prinsip-prinsip dasar keilmuan bersumber dari rasio manusia, sehingga pengalaman empiris bergantung pada prinsip-prinsip rasio. Karena rasio itu ada pada subjek (manusia), maka asal pengetahuan harus dicari pada subjek. Rasio itu berpikir. Berpikir inilah ynag membentuk pengetahuan. Karena hanya manusia yang berpikir, maka hanya manusia yang mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuan inilah manusia berbuat dan menentukan tindakannya. Berbeda pengetahuan, berbeda pula laku perbuatan dan tindakannya. Rasionalisme juga bisa diartikan sebagai doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama.
Empirisme merupakan suatu paham yang mengutamakan pengalaman. Secara harfiah, istilah empirisme berasal dari Bahasa Yunani, yaitu kata emperia yang berarti pengalaman. Pendekatan empiris melihat bahwa pengalaman, baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah merupakan sumber utama pengenalan. Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. 
Jadi, pendekatan rasionalisme memandang sumber utama pengetahuan adalah dari rasio, sedangkan empirisme memandang sumber utamanya adalah pengalaman.



Sumber Bacaan
Amin Mudzakir. 2012. Karl Popper dan Masa Depan Masyarakat Terbuka. http://www.politik.lipi.go.id.
Anonim. 2010. Paradigma Ilmu Thomas Kuhn dan Karl Popper. http:// mhs.blog.ui.ac.id/andri.septian.
_________. 2009. Thomas Kuhn. http://jaringskripsi.wordpress.com.
_________. 2010. Revolusi Keilmuan menurut Thomas Samuel Kuhn. http://munzaro.blogspot.com.
_________. Rasionalisme. http://id.wikipedia.org/wiki/
_________. Empirisme. http://id.wikipedia.org/wiki/
_________. 2011. Asumsi-Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia. http://tutorq.blogspot.com.
_________. 2010. Asumsi-Asumsi Dasar Proses Keilmuan. http://uzanck-area.blogspot.com.
_________. Pembuktian melalui Deduksi. http://id.wikipedia.org.
 _________. Berfikir Logika Induktif Deduktif dan Silogisme pada Filsafat Ilmu. http://www.docstoc.com.

Antara Filsafat dan Ilmu


Perbedaan antara filsafat dan ilmu, serta maksud dari Filsafat Ilmu.
           Apa itu filsafat dan apa itu ilmu. Istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani Kuno, yakni dari kata philos  yang berarti cinta yang sangat mendalam dan kata sophia yang berarti kearifan atau kebijakan. Jadi, secara harfiah, filsafat diartikan sebagai cinta yang sangat mendalam terhadap kearifan atau kebijakan. Istilah filsafat juga dikenal sebagai falsafah (Bahasa Arab).
                        Menurut Driyakarya, filsafat merupakan perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, serta perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan“.   Sedangkan menurut Prof.Dr.Ismaun, M.Pd., Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati). Jadi, filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
                        Adapun ilmu (ilmu pengetahuan) adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang mana pengetahuan tersebut selalu dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis oleh orang lain. Istilah ilmu berasal dari Bahasa Arab, yaitu ‘alima, ya’lamu, ‘ilman, yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Dalam Bahasa Inggris ilmu disebut science; dari bahasa Latin scientia (pengetahuan) - scire (mengetahui). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
                        Menurut The Liang Gie dalam bukunya yang berjudul Pengantar Filsafat Ilmu, ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan.
                        Lalu, apa perbedaan antara filsafat dengan ilmu? Perbedaan antara filsafat dengan ilmu dapat dilihat dari beberapa sudut. (1) Dilihat dari sudut bidang garapannya. Filsafat menggarap bidang yang luas dan umum, sedangkan ilmu pengetahuan membahas bidang-bidang yang khusus dan terbatas. Tujuan keduanya pun lain, filsafat bertujuan mencari pemahaman dan kebijaksanaan atau kearifan hidup. Sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan mengadakan deskripsi, prediksi, eksperimentasi, dan koreksi/kontrol. (2) Dilihat dari obyek materialnya, filsafat bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita), sedangkan ilmu pengetahuan itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu pengetahuan hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu. (3) Dilihat dari obyek formalnya, filsafat bersifat nonfragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam, dan mendasar. Sedangkan ilmu pengetahuan bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif serta teknis. (4) Dilihat dari pelaksaannya, filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan. Sedangkan ilmu pengetahuan haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. (5) Dilihat dari muatan pertanyaan dan penjelasannya, filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu pengetahuan bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu. Filsafat memberikan penjelasan yang mutlak dan mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, dan yang lebih sekunder (secondary cause). (6) Dilihat dari batas kajiannya, batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia, sedangkan batas kajian ilmu pengetahuan adalah fakta. Dan (7) Dilihat dari apa yang dijawabnya, ilmu pengetahuan menjawab why and how, sedangkan filsafat menjawab why, why, why, dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia.
                        Apa itu Filsafat Ilmu? Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan (pengetahuan ilmiah). Menurut Peter Caws, Filsafat Ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat pada umumnya lakukan terhadap seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal, di satu pihakfilsafat membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, serta menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan. Di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.
                        Adapun menurut A. Cornelius Benjamin, Filsafat Ilmu adalah cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan asumsi-asumsi, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual. Jika mencermati pengertian-pengertian di atas, Filsafat Ilmu dapat diartikan sebagai bagian dari filsafat yang mengkaji secara mendalam suatu ilmu tertentu dengan fokus kajian filsafat ilmu, yaitu obyek apa yang ditelaah oleh ilmu (landasan ontologis), bagaimana proses atau cara kita mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu tersebut (landasan epistemologi), dan untuk apa penggetahuan yang berupa ilmu itu kita pergunakan (landasan aksiologi).

Sumber Bacaan Jawaban Nomor 1
Alim Sumarno. 2011. Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Wahyu. http:// elearning.unesa.ac.id.
Anonim. 2010. Perbedaan Filsafat dan ilmu Pengetahuan. http://kajad-alhikmahkajen. blogspot.com.
Anonim. 2011. Kebenaran Ilmiah. http://sururudin.wordpress.com.
Dian Permatasari Pasaribu, dkk. 2011. Kebenaran dalam Pandangan Ilmu Pengetahuan. http://perpustakaanstainmanado.blogspot.com.
Imam Mawardi. 2008. Kebenaran dalam Perspektif Filsafat Ilmu (Pendekatan Teoritik). http://mawardiumm.wordpress.com.
Lucisno. Pengantar Filsafat Ilmu. http://ush.sunan-ampel.ac.id.
Pujo Sumedi dan Mustakim. 2008. Pengertian Filsafat. http://akhmadsudrajat. wordpress.com.
Riwayati. 2010. Kebenaran Ilmiah. http://www.sodiycxacun.web.id.
Slamet Ibrahim. Pengertian Filsafat Ilmu. http://id.shvoong.com/humanities.
Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 
Uyoh Sadulloh. 2008. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Akal


Kebenaran Ilmiah (Akal) dan Kebenaran Agama (Wahyu)
           Sebelum menjawab apa itu kebenaran ilmiah dan kebenaran agama, akan dikupas dulu apa itu kebenaran. Kebenaran kerap diartikan sebagai kesesuaian antara apa yang sering diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Pengertian ini sesuai dengan pendapat dari Aristoteles. Sementara itu, Bradley seperti yang dikutip oleh Imam Mawardi dalam artikelnya, “Kebenaran dalam Perspektif Filsafat Ilmu” mengatakan bahwa kebenaran itu adalah kenyataan. Kenyataan yang dimaksud tidak selalu sesuatu yang harusnya terjadi, tetapi tetapi segala sesuatu yang terjadi termasuk ketidakbenaran (keburukan) itu sendiri. Jadi, masih dari sumber yang sama, ada dua pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang dalam arti sesuatu yang nyata-nyata terjadi dan kebenaran dalam arti lawan dari ketidakbenaran (keburukan).
                        Lalu, apa maksud dari kebenaran ilmiah (akal)? Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang diperoleh dengan menggunakan metode tertentu yang disusun secara sistematis sehingga kebenaran ilmiah ini memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik ilmiah meliputi sesuatu yang sesuai fakta, logis, terukur, dan bersifat universal. Selanjutnya, kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan melalui prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu.
                        Oleh karena itu kebenaran ilmiah sering disebut sebagai kebenaran nisbi atau relatif. Hal ini senada dengan pendapat Wilardo bahwa kebenaran ilmiah ini tidak mutlak, tidak sama, atau tidak langgeng, tetapi kebenaran ini bersifat relatif (nisbi), tentatif (sementara), dan hanya merupakan pendekatan. Sifat kebenaran ini sesuai dengan sifat keilmuan itu sendiri yang dapat berubah sesuai dengan perkembangan hasil penelitian, karena suatu teori pada masa tertentu bisa jadi merupakan kebenaran, tetapi pada masa berikutnya bisa jadi sebuah kesalahan besar.
                        Bagaimana dengan kebenaran agama (wahyu)?  Kebenaran agama adalah kebenaran yang bersumber dari wahyu. Wahyu adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah (Tuhan) kepada manusia untuk membimbingnya menuju kepada kebenaran. Kebenaran agama yang diyakini berdasarkan pada wahyu. Manusia akan terus mencari kebenaran yang merujuk pada wahyu-wahyu yang tertulis dalam kitab sucinya. Melalui agama, manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan jalan mempertanyakan dan mecari jawaban tentang pelbagai permasalahan asasi yang merujuk pada kitab sucinya.
                        Jika kebenaran ilmiah dan kebenaran wahyu seolah-olah terjadi pertentangan, sikap saya tentu akan “mempertanyakan kembali”. Dalam arti perlu mengkaji lagi di mana letak pertentangan tersebut. Hal ini karena suatu kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran lainnya. Artinya, jika ada suatu kebenaran yang saling bertentangan berarti ada salah satu yang salah.
                        Sebuah kebenaran kerap bergantung pada pandangan hidup (worldview) atau dalam istilah lainnya falsafah atau ideologi orang perorang. Pandangan hidup ini dapat bersumber dari pemahamannya terhadap konsep Tuhan. Jika konsep tentang Tuhan saja sudah berbeda kemungkinan pandangan hidupnya berbeda. Inilah yang akan dapat membedakan atau menghasilkan pertentangan suatu kebenaran, yakni antara kebenaran ilmiah dan kebenaran agama. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Thomas F. Wall yakni percaya terhadap Tuhan berimplikasi pada kepercayaan bahwa sumber pengetahun dan moralitas adalah Tuhan. Sebaliknya, tidak percaya terhadap Tuhan akan menghasilkan kepercayaan kepercayaan bahwa sumber pengetahuan dan moralitas adalah subyektivitas manusia.
                        Sebagai Muslim, jika ada pertentangan antara kebenaran ilmiah dengan kebenaran agama (Islam), maka saya akan meyakini bahwa kebenaran ilmiahlah yang harus diteliti lagi. Hal ini sesuai dengan ciri atau karakter ilmu itu sendiri yang terus selalu dikembangkan melalui suatu metode penelitian yang tentunya mempunyai kadar penyimpangan sekecil apapun. Oleh karena itu, sebenarnya kebenaran bersumber dari satu sumber, yaitu dari sumber kebenaran yang pertama dan merupakan penyebab dari semua kebenaran atau dengan bahasa lain kerap disebut sebagai cuasa prima, yakni Allah SWT.
     
Sumber Bacaan
Alim Sumarno. 2011. Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Wahyu. http:// elearning.unesa.ac.id.
Anonim. 2010. Perbedaan Filsafat dan ilmu Pengetahuan. http://kajad-alhikmahkajen. blogspot.com.
Anonim. 2011. Kebenaran Ilmiah. http://sururudin.wordpress.com.
Dian Permatasari Pasaribu, dkk. 2011. Kebenaran dalam Pandangan Ilmu Pengetahuan. http://perpustakaanstainmanado.blogspot.com.
Imam Mawardi. 2008. Kebenaran dalam Perspektif Filsafat Ilmu (Pendekatan Teoritik). http://mawardiumm.wordpress.com.
Lucisno. Pengantar Filsafat Ilmu. http://ush.sunan-ampel.ac.id.
Pujo Sumedi dan Mustakim. 2008. Pengertian Filsafat. http://akhmadsudrajat. wordpress.com.
Riwayati. 2010. Kebenaran Ilmiah. http://www.sodiycxacun.web.id.
Slamet Ibrahim. Pengertian Filsafat Ilmu. http://id.shvoong.com/humanities.
Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 
Uyoh Sadulloh. 2008. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.