Beranda

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

PANDANGAN AL-GHOZALI TENTANG MANUSIA

Pandangan Al-Ghozali tentang Manusia
1. Esensi Manusia
Secara filosofis, memandang manusia artinya berpikir secara totalitas tentang diri manusia itu sendiri, yakni struktur eksistensinya, hakikat atau esensinya, pengetahuan dan perbuatannya, tujuan hidupnya, dan segi-segi lain yang mendukung sehingga tampak jelas wujud manusia yang sebenarnya. Jika dipahami manusia sebagai makhluk historis, ia senantiasa berubah dari masa ke masa, baik pola pikirnya maupun pola hidupnya. Oleh karena itu, manusia dalam kurun waktu tertentu berbeda dengan kurun waktu lainnya. Dalam kaitannya dengan eksistensi manusia, perbedaan tersebut terletak hanya pada unsur dan sifatnya yang kasat mata, sedangkan hakikatnya adalah sama.
Sebagai filsuf Muslim yang hidup di abad pertengahan, Al-Ghozali tidak terlepas dari kecenderungan umum zamannya dalam memandang manusia. Karya-karyanya yang mengupas tentang manusia dapat dipahami bahwa esensi manusia adalah jiwanya. Jiwa merupakan identitas tetap manusia. Jiwa manusia merupakan substansi immaterial yang berdiri sendiri, ia tidak terdiri dari unsur-unsur yang membentuknya sehingga ia kekal dan tidak hancur.
Dalam Ihya Ulumiddin, Al-Ghozali menggunakan empat istilah dalam membahas tentang esensi manusia, yaitu:
1) Hati (qalb) ialah yang halus, ketuhanan dan bersifat kerohanian, ia dengan hati yang bertubuh ada hubungannya. Yang halus itu adalah hakikat manusia.
2)  Ruh adalah yang halus, yang mengetahui, dan yang merasa dari manusia
3) Jiwa (nafs) yaitu yang halus, yakni hakikat manusia diri dan zatnya.
4) Akal (aql) kadang ditujukan dan dimaksudkan yang memperoleh pengetahuan, dan itu adalah hati yakni yang halus. Kadang ditujukan dan dimaksudkan sifat orang yang berilmu, dan kadang ditujukan dan dimaksudkan tempat pengetahuan yakni yang mengetahui.

Penggunaan keempat istilah tersebut menunjukkan bahwa kajian AL-Ghozali terhadap esensi manusia begitu mendalam, menyertai sepanjang perkembangan pemikirannya. Saat berbicara tentang filsafat, ia lebih sering menggunakan kata nafs dan akal. Sedangkan ruh dan qalb lebih banyak dijumpai dalam kitab-kitabnya yang ditulis setelah menekuni tasawuf. Namun, hal ini tidak mengubah pandangannya tentang esensi manusia. Hal ini kemungkinan besar didasari oleh keinginannya menggabungkan konsep-konsep filsafat, tasawuf, dan syara’ sebab kata nafs dan akal sering digunakan para filosuf sementara kata qalb dan ruh sering digunakan para sufi. Sedang dalam Al-Quran, kata ruh, nafs, dan qalb digunakan untuk kesadaran manusia, jiwanya. 
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa jiwa itu bersifat immaterial, maka dengan sendirinya ia tidak mengambil tempat sebab yang bertempat adalah yang bersifat material. Inilah sifat dasar esensi manusia. Oleh karena itu, Al-Ghozali menolak pandangan bahwa jiwa itu di luar badan, sebab jika demikian ia tidak mungkin mengatur badan. Namun, ia pun tidak  berada di dalam badan sebab kalau demikian ada dua kemungkinan, keberadaannya di seluruh badan atau di sebagian saja. Menurutnya hal ini tidak mungkin.

Sumber: Abidin Ibnu Rusn. 1998. Pemikiran Al-Ghozali tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Senin, 04 Juni 2012

Globalisasi Ekonomi

Globalisasi Ekonomi Menurut Kenichi Ohmae 
Melahirkan Pasar Bebas Tanpa Batas
Dalam era globalisasi ekonomi, para pelaku ekonomi, yaitu para pengusaha (saudagar), menjadi kekuatan yang daya jangkaunya melewati batas-batas negara, bahkan meminimalkan peran negara. Negara menjadi tidak berdaya, dikebiri perannya, bahkan hingga ditundukkan di bawah kekuatan para pengusaha. Tunduknya negara pada kekuatan ekonomi dunia yang tak terbatasi membuat negara kemudian tampil tidak lagi melindungi warganya, tetapi melindungi para pengusaha, yakni para pelaku ekonomi perusahaan-perusahaan multinasional (MNC/multinational corporations). Akibatnya, warga atau masyarakat yang ada di bawah kekuasaan negara menjadi korban utamanya.
Jika melihat fenomena seperti itu, bisa jadi globalisasi merupakan kutukan bagi Negara atau masyarakat yang lemah atau tidak mempunyai sumber daya yang berdaya tawar tinggi. Negara saja tidak mampu mengatur kegiatan ekonomi, Negara saja tidak mampu menahan gempuran-gempuran keserakahan globalisasi, bagaimana dengan masyarakat lemah/kecil yang sama sekali tidak memiliki akses untuk bersaing dengan gurita-gurita raksasa.
Tunduknya negara berarti pesta-pora bagi para saudagar. Sektor-sektor ekonomi negara dikuasai MNC. Warga negara yang kemudian menjadi korban utama, karena sektor-sektor ekonomi yang seharusnya melibatkan mereka dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional.
Kenichi Ohmae mengatakan, globalisasi akan mengakibatkan hilangnya peran negara (the end of the nation state). Namun, nyatanya hingga detik ini negara di dunia masih tetap ada dan bertahan, tidak ada yang bubar gara-gara globalisasi. Posisi tawar negara sebenarnya masih kuat. Ini mestinya bisa digunakan sebagai senjata negosiasi negara melawan globalisasi yang membuat masyarakat menderita, tidak terlindungi.
Bagaimana caranya negara khususnya Negara dunia ketiga tetap berwibawa, berdaulat, dan kuat, tidak menjadi centeng kekuatan ekonomi multinasional, tetapi justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan masyarakatnya?
Menantang para pengusaha multinasional tidak harus dengan cara ekstrem dengan cara menutup atau mengisolasi diri, dan tidak mau menerima investor asing. Pemerintah juga tidak perlu terlalu terbuka hingga menjadi centeng bagi para pengusaha multinasional itu, yang berarti mengorbankan masyarakat. Pada intinya negara harus kuat jika ingin membendung efek negatif globalisasi bagi warga negara. Itu berarti negara harus tetap ada dan bertahan. Negara tidak boleh lenyap karena globalisasi.
      b.   Globalisasi Melahirkan Kehampaan (Nothing) menurut George Ritzer
            Teori-teori George Ritzer dalam buku terbarunya yang provokatif, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi atau Globalisasi Ketiadaan, bahwa “narasi besar” atau kisah masyarakat pada zaman ini, merupakan sebuah gerakan dari “sesuatu” menuju “ketiadaan”. Dengan mengandalkan namun melampaui tesis McDonaldisasinya yang termashyur, Ritzer berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat di bumi ini terus bergerak dari “sesuatu”, yang didefenisikan sebagai sebuah bentuk sosial yang umumnya dipahami sebagai, dikontrol secara likal, dan kaya akan isinya yang khas. Ritzer memperlihatkan bahwa kita sedang bergerak menuju “ketiadaan”  yang dikontrol dan disusun secara terpusat dan relatif tanpa substansi yang khas. Dalam gerakan menuju globalisasi “ketiadaan” inilah implikasinya “sesuatu” menjadi hilang. Lebih dari itu, bahwa “sesuatu” merupakan sebuah kebiasaaan asli, sebuah toko lokal, sebuah tempat berkumpul yang akrab, atau interaksi yang personal.
                        Ketika transaksi-transaksi (hubungan sosial) dilakukan tanpa tatap muka langsung, juga merupakan gejala kehampaan. Masyarakat atau manusia sudah kehilangan substansinya sebagai makhluk sosial. Jadi, persoalan utama di dunia saat ini didefenisikan sebagai “kehilangan di tengah-tengah kelimpahan monumental (dari ketiadaan).
                        Implikasi lainnya bagi peradaban manusia adalah dalam terjadi pola hidup konsumerisme, individualisme, dan gaya hidup hedonis lainnya. Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan maraknya mal-mal serta gerai-gerai makanan siap saji (KFC, McDonald, dll) kita akan terkesan mengkonsumsi sesuatu yang hampa karena semua dikerjakan dalam standar yang sama , tidaka ada keunikan/kekhasan apa yang kita konsumsi sehingga kita kehilangan substansi dari sebuah konsumsi. Tentunya ini sebuah realitas yang sulit dihindari, namun agar kita tidak terjebak pada pola yang dimaksud oleh George Ritzer adalah dengan terus mengembangkan interaksi sesama manusia. Interaksi atau lebih bagusnya lagi silaturahmi akan membuat kita tidak kehilangan “kemanusiaan kita”. Kalau setiap transaksi kita hanya diam menunggu mesin penghitung yang menghitung, menunggu masakan yang rasa asin atau pedasnya sudah pasti sama, maka saat itulah kita kehilangan sisi kemanusiaannya, kita akan sama dengan mesin penghitung di mal-mal dan bahkan kita tunduk pada mesin-mesin tersebut.   

Sumber Bacaan
Fajar Kurnianto. 2011. Negara dan Globalisasi Ekonomi. http:// fajar83kurnianto.blogspot.com.
Harwan AK. 2011. Mengkonsumsi Kehampaan: George Titzer dan Sponge Bob Squarepant. http://weliveby.blogspot.com. 
Patta Hindi. 2011. Menuju Masyarakat Konsumsi. http://lifestyle.kompasiana.com.

Benturan Peradaban

Benturan Peradaban menurut Huntington

Dalam artikel yang berjudul “The Clash of Civilizations, Huntington mencoba menawarkan paradigma baru dalam melihat dunia. Ia melihat ada tujuh peradaban yang akan mewarnai persaingan global: Western, Latin American, Confucian, Japanese, Islamic, Hindu dan Slavic-Orthodox. Ia memprediksikan akan terjadi konflik di level makro antara negara-negara dari peradaban yang berbeda dalam mengontrol institusi internasional, ekonomi global dan kekuatan militer.
Kemenangan ideologi liberalisme demokratik atas sosialisme menimbulkan kepercayaan diri yang luar biasa di kalangan masyarakat Barat, sehingga mereka menganggap ideologinya bersifat universal. Barat, khususnya Amerika Serikat, kemudian menjadi bangsa misionaris yang memaksa bangsa-bangsa non-Barat mau menerapkan nilai-nilai demokrasi Barat, pasar bebas, pemerintahan yang terbatas, menjunjung tinggi HAM, individualisme, aturan hukum, serta pemisahan agama dan Negara. Kondisi ini jelas berbeda dengan nilai-nilai dalam budaya Islam, Konghucu, Jepang, Hindu, Budha, ataupun Ortodoks. Jika, Barat terus memaksakan “perasaannya” sebagai Negara dengan peradaban yang terbaik dan benar, maka bisa menimbulkan konflik antarperadaban. Atau jika,  setiap peradaban yang diklasifikasikan oleh Huntington merasa paling benar, maka konflik antar peradaban bisa saja terjadi.
Selanjutnya Huntington mengatakan bahwa peradaban dapat berbenturan dalam dua level. Dalam level mikro, peradaban berbenturan di garis-garis persinggungan (fault lines). Dalam level makro, negara dengan peradaban yang berbeda saling bertarung kekuasaan, kekuatan, kapabilitas militer dan ekonomi, bertarung pengaruh dan kontrol dalam organisasi internasional dan pihak tiga, maupun secara komptitif mempromosikan nilai maupun agenda politik dan agama masing-masing.
Fault lines menggantikan perang pengaruh dan lokasi sumber konflik pada era Perang Dingin. Konflik di daerah fault lines, misalnya antara peradaban Barat dan peradaban Islam telah berlangsung lebih dari 1300 tahun. Konflik antarperadaban menjadi semakin intensif  sehingga selalu identik dengan kekerasan.
Solusi terhadap benturan peradaban antara lain: untuk menciptakan solidaritas global harus dimulai dari upaya saling mengenal. Hal lain yang sangat penting adalah mengenali “musuh bersama” dan problem-problem bersama. Demo anti Perang AS atas Irak menjadi sinyal positif bagi peluang kerjasama antar orang-orang yang punya semangat menciptakan kerukunan dari berbagai belahan dunia.
Pandangan terhadap Hubungan antara Barat dan Islam dewasa ini
Interaksi dunia Islam dengan Barat seringkali dikemukakan dalam pengertian yang kontras, bahkan tidak jarang diikuti munculnya stereotip negatif dari kedua belah pihak dan menganggapnya sebagai musuh. Ungkapan-ungkapan seperti: “orang Kristen melawan orang Islam, salib melawan bulan sabit, agama Kristen melawan agama Islam, dunia Islam adalah ancaman bagi Barat, Barat adalah musuh Islam”, adalah cerminan dari interkasi yang beraroma kontras tersebut. Kesan interaksi yang kontras tersebut sebagian diperkuat dan didukung oleh pernyataan sejumlah pemimpin agama maupun politik. Media massa, disadari atau tidak, ikut pula terjerumus ke dalam propaganda ini, sehingga muncul sikap saling tidak percaya dan saling curiga. Bahkan, buku Huntington tentang benturan peradaban ikut menyumbang besar dalam hubungan Islam dan Barat yang kontras tersebut. Mengapa Huntington tidak berani menegaskan sekalian bahwa benturan peradaban akan terjadi hanya antara Barat dan Islam. Hal ini hanya untuk memberikan kesan artikelnya sebagai makalah ilmiah yang obyektif.
Hubungan Islam dan Barat semakin kontras ketika Uni Soviet dengan Sosialis-Komunis yang saat itu dianggap musuh dalam Perang Dingin, mengalami keruntuhannya. Maka semakin kuatlah legitimasi Barat bahwa peradaban merekalah yang paling benar. Kemudian, Barat kembali fokus kepada “Musuh Lama” nya, yaitu Islam dengan mengambil jargon Terorisme yang diperkuat oleh momentum 11 September (WTC). Lihatlah bagaimana Barat (Amerika dan sekutunya) dengan legitimasi demokrasi, HAM, Memberantas Terorisme menyerang Negara-negara Arab (Muslim) hanya untuk alasan yang kadang tidak jelas. Mereka menyerang Irak, Afganistan, Libya, dan Negara-negara (Muslim) lainnya. Sementara, di Israel-Palestina, Barat diam saja dan terkesan tidak menyetujui. Bahkan, mereka menolak Palestina untuk bergabung menjadi anggota PBB. Sungguh sangat jelas bahwa orang-orang kafir, nasrani, yahudi akan berpadu sampai Islam itu hancur.
Sumber Bacaan
Anwari WMK. 2010. Islam versus Barat?. http://anwariwmk.wordpress.com.
Misbahul Hasan. 2006. Membincang Benturan Antarperadaban. http:// antinekolib.blogspot.com.
Misbahul Hasan. 2010. Membangun Benturan Antar Peradaban Huntington. http://www.facebook.com.
Muhammad Lazuardi al-Jawi. 2007. Benturan Peradaban Islam VS Barat. http://khilafahislam.multiply.com.
Sholihan. Islam dan Barat di Era Pasca Perang Dingin dan Globalisasi: Konflik atau Damai?. http://www.wmc-iainws.com. 
Zainal Abidin Bagir. 2011. Menguji the Clash of Civilizations Samuel P. Huntington. http://crcs.ugm.ac.id.

Jalan Ketiga Anthony Giddens


Jalan Ketiga menurut Anthony Giddens 
Anthony Giddens mengamati jalannya dunia sekarang ini dalam kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian ini telah direkayasa oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya atau yang dikenal dengan istilah ”Manufactured Uncertainy”. Dia juga mengatakan bahwa dunia tanpa kendali, run away, yang mengakibatkan segala macam permasalahan. Untuk keluar dari semua itu, Giddens menyebut, (sekurang-kurangnya) ada lima dilema, yang harus dihadapi yakni, 1) globalisasi, 2) indivdualisme, 3) kiri-kanan (sosialisme-kapitalisme), 4) munculnya isu-isu ekologis (lingkungan), dan 5) subyek-pelaku politik (munculnya gerakan-gerakan baru).
            Dari kelima dilema inilah kemudian Giddens menawarkan “Jalan Ketiga”nya. Tawaran ”Jalan Ketiga” Giddens tidak sekadar pilihan antara sosialisme dan kapitalisme, antara negara dan pasar, tetapi lebih dari itu, suatu jalan untuk meredakan ketegangan antara risiko (high consequence risk) dan keamanan (ontological security). Tujuan umum dari ”Jalan Ketiga” adalah membantu anggota masyarakat merintis jalan mereka melalu revolusi utama. Karena itu, politik ”Jalan Ketiga” memandang bahwa globalisasi adalah positif. Namun, globalisasi juga harus diwaspadai karena dampaknya yang dasyat terutama dalam bidang ekonomi.
“Jalan ketiga” Giddens selanjutnya, yaitu individualisme memang berbahaya, tetapi tidak boleh begitu saja ditaklukan oleh kolektivisme. Di sini gunanya peran negara untuk mengendalikan kerakusan kapitalisme, tetapi juga tidak boleh sedemikian besar sehingga melumpuhkan minat investor atau menjadi negara totalliter. Industrialisme juga perlu untuk menstranformasi alam, tetapi harus dilakukan harus dilakukan sedemikian rupa dengan memperhatikan faktor resiko yang ditimbulkan. Motto dalam politik ”Jalan Ketiga” adalah tak ada hak tanpa tanggung jawab. Pedoman yang kedua dalam politik ”Jalan Ketiga” adalah tak ada otoritas tanpa demokrasi. Maksudnya adalah pemerintah membangun kontak yang lebih langsung dengan masyarakat, dan sebaliknya, masyarakat dengan pemerintah melalui eksperimen-eksperimen demokrasi.
Sebab-sebab mendasar gagasan jalan ketiga adalah analisis Giddens yang tajam mengenai semakin mengemukanya pasar global dan mundurnya perang berskala besar yang telah memepengaruhi struktur dan legitimasi pemerintah. Demikian juga sebab lainnya (sebenarnya sudah disinggung di atas) yang mencakup semakin meluasnya penyebaran demokratisasi, yang berkaitan erat dengan pengaruh tradisi dan adat istiadat yang tumpang tindih. Daya tarik demokrasi menurutnya bukanlah sepenuhnya (dan bukan terutama) muncul dari kemenangan institusi-institusi demokrasi liberal atas institusi-institusi lain, melainkan dari kekuatan-kekuatan yang lebih dalam yang membentuk kembali masyarakat global termasuk tuntutan atas otonomi individual dan munculnya masyarakat yang lebih reflektif.
Pendapat saya terhadap konsepsi “Jalan Ketiga” Gidden. Sebenarnya untuk memberikan pendapat tentang konsepsi “Jalan Ketiga” Gidden diperlukan pemahaman utuh (bukan sepenggal-sepenggal), tentunya dengan cara membaca bukunya secara langsung. Namun, karena keterbatasan maka jawaban berikut merupakan sebuah upaya mengumpulkan serpihan-serpihan tulisan yang termuat dalam beberapa website yang kemudian direduksi menjadi sebuah pendapat yang mungkin berupa serpihan juga.
Konsepsi Giddens tentang “Jalan Ketiga” menurut saya merupakan sesuatu yang sudah lama dibicarakan. Permasalahan globalisasi, individualisme, sosialisme-kapitalisme, lingkungan, dan politik memang kerap menjadi perdebatan yang muaranya pada penilaian atau pemihakan pada salah satunya dan yang kemudian apa yang dianggapnya sebagai masalah. Namun, dalam pandangan Giddens, hal tersebut dikupas dari sudut dilematisnya. Hal yang saya setujui adalah bahwa Giddens melihat kedua jalan itu ada benarnya dan ada salahnya juga. Misalnya, globalisasi. Salah satu karakter globalisasi sendiri adalah semakin kaburnya border dan akses atas informasi yang kian tak terbatas. Arus informasi yang tak terbatas ini ternyata tidak dibarengi oleh penyelesaian tiga fenomena, yaitu disparitas kaya-miskin, destruksi lingkungan, dan penindasan oleh ruling class (kelas pembuat aturan). Namun, hal yang masih belum sependapat adalah, ide-ide Giddens ini agak kurang dioperasionalkan, sehingga banyak yang menganggap apa yang ditulis Giddens sebagai hal yang utopis (tidak mungkin). Dan di Indonesia sendiri, sebenarnya ide Giddens ini sudah tersirat dalam konteks Negara Indonesia yang berdemokrasi Pancasila. Ya, Pancasila merupakan dasar Negara yang tidak menganut sosialis maupun kapitalis, meskipun kenyataannya sulit untuk diterapkan.
Teori Fukuyama dan Perilaku Politik Luar Negeri Amerika Serikat
Dalam bukunya “The End of History and the Last Man”, Francis Fukuyama menyatakan bahwa demokrasi liberal merupakan tujuan akhir dari evolusi ideologi umat manusia dan bentuk final dari pemerintahan manusia. Pandangan ini muncul pascakekalahan sosialis-komunis yang ditandai runtuhnya Uni Soviet. Lebih lanjut Francis Fukuyama menjelaskan bahwa demokrasi liberal, sebagai sistem pemerintahan yang telah memperoleh legitimasi yang kuat di seluruh dunia, merupakan “the end of history”. Pada akhir sejarah, menurut Fukuyama, tak ada lagi tantangan idiologis yang serius terhadap demokrasi liberal. Pada masa lalu, manusia menolak demokrasi liberal sebab mereka percaya bahwa demokrasi liberal adalah inferior terhadap berbagai ideologi dan sistem lainnya, seperti monarki, teokrasi, fasisme, komunisme, totalitarianisme, atau apa pun. Tetapi, sekarang, katanya, demokrasi liberal sudah menjadi konsensus umat manusia, kecuali dunia Islam. Jika ditanya pendapat saya, tentu saya tidak setuju dengan pendapat tersebut.
            Ada hal-hal menarik di lapangan yang mematahkan pendapat Fukuyama tersebut. Taruhlah Fukuyama menyatakan bahwa tidak ada tantangan ideologis lagi bagi demokrasi liberal pascaruntuhnya sosialis-komunis, tetapi banyak kebijakan-kebijakan Barat (Amerika) yang cenderung memandang Islam sebagai tantangan paling serius selanjutnya.  Apalagi pascaruntuhnya gedung kembar (WTC) di Amerika yang kemudian memunculkan jargon antiterorisme yang justru anehnya ditujukan pada umat Islam (lucu kan?). Perang terhadap terorisme inilah yang merupakan bukti perilaku politik luar negeri Amerika Serikat membenarkan teori yang diungkapkan oleh Fukuyama.

Sumber Bacaan
Adian Husaini. 2005.  The End of History atau The End of The West? http:// alislamu.com.
Ahmad Rizky Mardhatillah Umar. 2009. Menelusuri Jalan Ketiga Anthony Giddens. http://ibnulkhattab.blogspot.com.
Anonim. 2011. Francis Fukuyama tentang Akhir Sejarah. http:// kampusbebeck. blogspot.com .
Anonim.  Anthony Giddens: Sang Pencari Jalan Lain. http://www.yudhieharyono.com.
Anonim. 2007. The Third Way: The Renewal of Social Democracy. http://norpud.blogspot.com.
Ibrahim Rantau. 2010. Mengintip Kembali Jalan Ketiga. http://sosbud. kompasiana.com. 
M. Yudhi Haryono. 2009.  Giddens untuk Pemula. http://tokohbangsa.wordpress.com

Titik Balik Peradaban


Dasar Argumen Pendapat Fritjof Capra tentang Titik Balik Peradaban 
sebagai Akibat dari Epistemology Cartesian Newtonian.

Fritjof Capra memaparkan bahwa saat ini manusia tengah mengalami titik balik peradaban. Ini terlihat dari menurunnya kemampuan modernitas dalam mencapai tujuan kemanusiaan. Satu gerak yang terbarengi oleh dahaga spiritual dan kesadaran ekologis atas tata hidup kita yang menjadi penyempurna kemanusiaan tersebut. Modernitas yang pada awalnya menjadi alternatif tak mampu lagi mengangkat kemanusiaan karena telah melenceng dari prinsip dasar kebudayaan. Telah terjadi krisis multidimensional, yaitu dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spriritual yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah perjalanan umat manusia. Kini dimensi tersebut telah melahirkan berbagai fenomena sosial dan masyarakat pada tingkat yang sangat memprihatinkan seperti kejahatan tindak kekerasan, kecelakaan, bunuh diri, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, cacat mental, penyakit kejiwaan dan sebagainya. Dampak krisis terhadap lingkungan berupa pencemaran akibat limbah kimia dan nuklir sebagaimana terjadi di negara-negara maju.
Fritjof Capra berargumen bahwa kepercayaan ala Descartes pada kebenaran ilmiah masih tersebar luas pada saat ini tercermin dalam “scientism” yang telah menjadi ciri kebudayaan barat. Penerimaan pandangan Cartesian sebagai kebenaran mutlak dan sebagai satu-satunya cara shahih bagi pengetahuan telah memainkan peranan penting dalam menghasilkan ketidakseimbangan budaya manusia sampati saat ini. Selanjutnya, Capra mengatakan bahwa antara tahun 1500 dan 1700 itu terdapat satu perubahan dramatis pada cara manusia dalam menggambarkan duniannya dan cara berpikir mereka. Sebelum tahun 1500 pandangan dunia di eropa dan sebagian peradaban lain bersifat organik, ditandai dengan saling ketergantungan antara fenomena spiritual dan fenomena material dan prinsip bahwa kebutuhan masyarakat umum lebih utama daripada kepentingan pribadi.
Pandangan abad pertengahan itu berubah secara mendasar pada abad keenam belas dan ketujuh belas. Pengertian alam semesta yang berbentuk organik digantikan oleh pengertian bahwa dunia laksana sebuah mesin, dan mesin dunia itu kemudian menjadi metafora yang dominan pada jaman modern. Perkembangan ini diakibatkan oleh perubahan-perubahan revolusioner dalam ilmu fisika dan astronomi yang puncaknya pada prestasi yang dicapai oleh Copernicus, Galileo, dan Newton. Fritjof Capra mengemukakan bahwa krisis-krisis global tersebut dapat dilacak pada cara pandang dunia manusia modern. Pandangan dunia yang diterapkan selama ini adalah pandangan dunia mekanistik-linier Cartesian dan Newtonian (disebut sebagai Paradigma Cartesian-Newtonian). Nah, epistemology Cartesian-Newtonian inilah yang menurut Fritjof Capra sebagai penyebab kemunduran peradaban, yakni ketika terjadinya pemisahan antara jiwa dan raga (ruh dan materi) dari suatu pengetahuan serta ketika diyakini bahwa kehidupan di bumi (dunia) ini seperti mesin.
      Solusi Menyelamatkan Peradaban Manusia Dewasa Ini
            Solusi untuk menyelamatkan peradaban dunia menurut saya adalah perlu dilakukan perubahan pada paradigma Cartesian-Newtonian. Memang di satu sisi, Descartes dan Newton telah berhasil memajukan ilmu pengetahuan (sains) khususnya fisika dan teknologi. Namun, di sisi lain nilai-nilai sosial dan nilai-nilai lingkungan telah terabaikan, sehingga terjadi titik balik peradaban. Oleh karena itu, diperlukan sebuah paradigma baru yang meliputi visi baru tentang realitas, perubahan yang mendasar pada pemikiran perubahan persepsi dan perubahan nilai budaya selama ini. Diperlukan perubahan paradigma dalam menghadapi suatu realitas, bahwa segala sesuatu yang ada di bumi/dunia ini saling berhubungan kalau tidak dikatakan saling bergantung. Tidak ada pemisahan yang tegas antara jiwa dan raga, tidak ada pemisahan fisik dan mental.
            Sebagai orang yang berkutat dalam dunia pendidikan, kita juga jangan sampai terjebak pada paradigma epsitemologi Cartesian-Newtonian. Mengapa? Karena paradigma seperti itu telah melahirkan berbagai persoalan yang sangat mendasar bagi pengembangan anak bangsa, khususnya yang paling terasa ialah telah lahirnya generasi (output pendidikan) yang berkepribadian instrumentalistik, materialistik, terkotak-kotak dan sempit serta terbatas, dan sangat lemah dari segi karakter dan kepribadian bangsa dan agama. Oleh karena itu, saya sependapat dengan Syaifuddin Sabda bahwa salah satu alternatif paradigma yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan saat ini adalah paradigma pendidikan yang holistik, yaitu pendidikan yang dibangun berdasarkan asumsi connectedness, wholeness dan being fully human atau paradigma pendidikan yang memandang pendidikan sebagai sebuah usaha sadar untuk mengembangkan potensi manusia (anak didik) sesuai dengan potensinya masing-masing sebagai manusia yang unik dan holistik (jasmani dan rohani yang merupakan kesatuan) sebagai ciptaan Allah yang sempurna.

Sumber Bacaan
Ahmad Sofyan. 2002.  Titik Balik Peradaban. http://ahmad.sofyan.web.id.
Anonim. Bom Waktu Beracun Mengancam Anda. http://www.unhas.ac.id.
Iden Wildensyah. 2011.  Menjawab Kritik Profesor. http://filsafat.kompasiana.com.
Iim Al Imron. 2009. Titik Balik Peradaban. http://iimrsch.wordpress.com.
Syaifuddin Sabda. Paradigma Pendidikan Holistik. http://www.docstoc.com. 
Zulvalle. Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan. http://id.shvoong.com.

Pendekatan Deduktif, Induktif, Rasionalisme, dan Empirisme


Pendekatan Deduktif, Induktif, Rasionalisme, dan Empirisme
Pendekatan deduktif kerap dikontraskan dengan pendekatan induktif. Pendekatan Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Dari segi bahasa, deduktif atau deduksi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu deduction yang artinya penarikan kesimpulan-kesimpulan dari keadaan-keadaan umum atau menemukan yang khusus dari yang umum. Pendekatan deduktif juga diartikan sebagai cara berpikir dimana pernyataan yang bersifat umum ditarik suatu kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan dalam pendekatan deduktif biasanya menggunakan pola pikir silogisme yang secara sederhana digambarkan dalam penyusunan dua buah pernyataan (premis mayor dan premis minor) dan sebuah kesimpulan.
Pendekatan Induktif merupakan pendekatan yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke hal umum. Hukum yang disimpulkan pada fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Berpikir induktif adalah bentuk dari apa yang disebut generalisasi. Induksi (induction) adalah cara mempelajarai sesuatu yang bertolak dari hal-hal khusus untuk menentukan hukum atau hal yang bersifat umum. Metode berpikir induktif merupakan cara berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Oleh karena itu, penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang khusus dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Rasionalisme merupakan suatu paham yang mengutamakan rasio. Paham ini beranggapan bahwa prinsip-prinsip dasar keilmuan bersumber dari rasio manusia, sehingga pengalaman empiris bergantung pada prinsip-prinsip rasio. Karena rasio itu ada pada subjek (manusia), maka asal pengetahuan harus dicari pada subjek. Rasio itu berpikir. Berpikir inilah ynag membentuk pengetahuan. Karena hanya manusia yang berpikir, maka hanya manusia yang mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuan inilah manusia berbuat dan menentukan tindakannya. Berbeda pengetahuan, berbeda pula laku perbuatan dan tindakannya. Rasionalisme juga bisa diartikan sebagai doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama.
Empirisme merupakan suatu paham yang mengutamakan pengalaman. Secara harfiah, istilah empirisme berasal dari Bahasa Yunani, yaitu kata emperia yang berarti pengalaman. Pendekatan empiris melihat bahwa pengalaman, baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah merupakan sumber utama pengenalan. Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. 
Jadi, pendekatan rasionalisme memandang sumber utama pengetahuan adalah dari rasio, sedangkan empirisme memandang sumber utamanya adalah pengalaman.



Sumber Bacaan
Amin Mudzakir. 2012. Karl Popper dan Masa Depan Masyarakat Terbuka. http://www.politik.lipi.go.id.
Anonim. 2010. Paradigma Ilmu Thomas Kuhn dan Karl Popper. http:// mhs.blog.ui.ac.id/andri.septian.
_________. 2009. Thomas Kuhn. http://jaringskripsi.wordpress.com.
_________. 2010. Revolusi Keilmuan menurut Thomas Samuel Kuhn. http://munzaro.blogspot.com.
_________. Rasionalisme. http://id.wikipedia.org/wiki/
_________. Empirisme. http://id.wikipedia.org/wiki/
_________. 2011. Asumsi-Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia. http://tutorq.blogspot.com.
_________. 2010. Asumsi-Asumsi Dasar Proses Keilmuan. http://uzanck-area.blogspot.com.
_________. Pembuktian melalui Deduksi. http://id.wikipedia.org.
 _________. Berfikir Logika Induktif Deduktif dan Silogisme pada Filsafat Ilmu. http://www.docstoc.com.