Beranda

Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2016

Belajar dari Pion


Membaca postingan tentang Sambutan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat terkait dengan dimulainya tantangan membaca dalam kemasan West Java Leader Reading Challenge WJLRC) 1 September 2016, penulis selaku perintis/pioneer terinspirasi untuk menulis sedikit dengan judul Belajar dari Pion (baca: Pioneer). Tulisan ini sebagai upaya penulis untuk menjaga semangat dan amanat.
Hal pertama yang bisa dijadikan inspirasi dari Pion (baca pioneer) ialah meski kecil ia tidak pernah mundur. Sebagai salah satu bidak catur dengan ukuran yang paling kecil, pion tidak pernah mundur. Meski resiko yang dihadapi adalah kematian. Pion akan menunggu perintah pemegang permainan demi mulusnya sebuah kerja tim. Hal kedua, Pion kerap dijadikan umpan, demi sebuah strategi. Mengumpan dengan pion demi strategi "besar" tentunya tidak dipandang merugikan tim. Meski peran pion kadang justru strategis saat menjebak lawan yang lebih besar. Namun demikian, yakinlah peran itu sangat penting bagi tim meski mati dalam perjuangan.
Hal penting lainnya terkait dengan pion adalah permainan tidak akan pernah dimulai jika satu pion pun tidak melangkah. Sebuah pergerakan atau sejenisnya tidak akan pernah berjalan jika tidak didahului oleh langkah pionir atau perintis. 
Permainan tidak akan berjalan tanpa didahului langkah pion
Langkah pertama inilah yang sangat dibutuhkan. Tanpa langkah pertama dari para pion maka bidak lainnya tidak akan bisa jalan. Tanpa langkah pertama dari para pionir maka setiap pergerakan atau sejenisnya tidak akan pernah dimulai. Demikian pula gerakan literasi sekolah dan WJLRC tidak akan pernah mulai bergerak tanpa dimulai oleh para perintis atau pioneer. Jadi, tetap semangatlah menjadi perintis demi menjaga amanat karena begitu pion melangkah maka elemen lainnya, penggerak dan para pemimpin lainnya akan mudah melangkah. Belajarlah dari pion meski kecil ia tidak pernah mundur. Salam Literasi!!! (DS-PP)

Sabtu, 30 November 2013

Catatan Perjalanan 2


CATATAN PERJALANAN
KE ADELAIDE, SOUTH AUSTRALIA

"ADAPTASI AWAL"

MINGGU, 20 OKTOBER 2013.
“Adaptasi dengan Host Family (HF)”
Pagi ini kami bangun sekitar pukul 5.00. HF kami belum bangun juga. Sekitar pukul 7.00, HF kami memanggil kami untuk breakfast. Kami pun keluar dan melihat dapur sepertinya tidak ada tanda-tanda buat sarapan nih. Mana nasi kuning, mana bubur ayam, atau mana mie rebus. Ternyata yang tersedia roti yang siap dipanggang. Aku pun bertanya tempat menyimpan telur. Colin pun menunjuk lemari kulkas yang ada di dapur. Aku putuskan memasak telur tersebut menjadi telur ceplok. Kemudian aku berpikir, mana nasinya? Dengan keterbatasan bahasa, kerap membuat kami pada awalnya lebih banyak diam. Akhirnya, pagi ini aku cuma sarapan telur “ceplok” dengan dibumbui garam dan mrica. Sesuatu yang sama sekali di Indonesia tidak pernah kualami.
Siang hari, kami mencoba menanyakan ada wifi atau tidak. Ternyata Pak Roni sudah menanyakan password wifi tersebut dan diberi beberapa angka yang menurut Colin, itu adalah passwordnya. Setelah kami coba masukan kode tersebut, ternyata tidak juga on. Kami pun kembali ke kamar masing-masing.  

Salah satu sudut kamar tidur kami.
Merasa boring di rumah apalagi tidak diberi kode/password wifi, kami meminta HF untuk mengajak kami mencari modem. Ternyata harganya membuat kami berpikir ulang. Tidak satupun barang kami beli. Alhasil… nihil.
Sore hari, kami izin ke HF untuk melihat-lihat lingkungan sekitar rumah. Kami menerobos pagar pembatas rel kereta api dengan jalan hanya untuk mengambil foto di atas rel. Ah, ini mah di Indonesia juga ada. Kami pun pindah.

Rel
“Ditegur Warga” 
Pada suatu sudut jalan, tepatnya di Jalan Batanga Cr, aku mengambil (shoot) video Pak Roni dengan latar belakang lingkungan sekitar. Aku pun berputar mengitari tubuhku sendiri, sambil mengambil obyek-obyek baik nama jalan, jalan, rumah, dan tanah kosong. Suasana sangat sepi tidak ada orang maupun mobil lalu lalang. Belum saja selesai aku mengambil gambar Pak Roni, terdengar suara: “ Hai, get out…..” dari seorang lelaki bertato. Aku dan Pak Roni kaget, ternyata pemilik rumah yang terekam rumahnya marah. Reflek kumatikan handycam dan kami pun mendekat untuk menjelaskan dan meminta maaf. Terjadilah dialog yang terbata-bata karena perbedaan bahasa dan mungkin karakter. Anjing yang ada di dalam menggonggong keras. Untung dipegangi oleh perempuan mungkin istri lelaki bertato tersebut. Setelah dimaafkan kami pun bergegas pulang.
Kami sejenak berpikir, sampai sejauh itukah orang-orang di sini begitu melindungi privacinya. Hanya terrekan rumahnya, itupun hanya "sekelabat" tetapi reaksinya seperti kemasukin maling.

Kami pun pindah ke tempat yang masih terletak di dalam komplek ini.


Pak Rony di salah satu sudut Nolinga Way

Jumat, 18 Januari 2013

Quo Vadis Pendidikan Budi Pekerti



QUO VADIS PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
OLEH: DARYO SUSMANTO, S.Sos


A.      Latar Belakang
Pentingnya akhlak mulia, moral yang baik, dan budi pekerti yang luhur tidak dapat dipungkiri oleh semua masyarakat atau warga Negara. Orangtua manapun pasti menginginkan anaknya menjadi anak bermoral, anak yang saleh, dan berbudi pekerti luhur. Kondisi ini membawa pada kondisi ideal bahwa setiap anak akan diinternalisasi oleh nilai-nilai moral yang tinggi baik yang berdasarkan nilai-nilai keagamaan maupun nilai-nilai kemasyarakatan. 
Persoalan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter menguat kembali saat masyarakat mulai menilai bahwa permasalahan-permasalahan yang muncul dalam masyarakat, seperti korupsi, kenakalan remaja, tawuran antarpelajar, tawuran antarkelompok masyarakat, geng motor, perilaku seks bebas/menyimpang, penyalahgunaan narkoba, perilaku menyimpang pejabat publik, dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya terjadi karena kurangnya penanaman nilai dalam masyarakat sejak usia dini atau remaja. Penanaman nilai ini terjadi dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Persoalan yang muncul di masyarakat seperti tersebut di atas menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti melalui peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah moral bangsa yang dibicarakan itu adalah melalui pendidikan.
Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif  karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat serta lama di dalam masyarakat.
                Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan budi pekerti muncul kembali. Terlepas dari pro dan kontra, kenyataannya Pendidikan Budi Pekerti kemudian menjadi salah satu mata pelajaran yang ikut mengawal penanaman nilai-nilai terhadap peserta didik. Tentunya dengan berbagai persoalan dan kendala yang tidak sedikit.
B.      Pendidikan Budi Pekerti di Cirebon
Sebagai salah satu mata pelajaran muatan local, Pendidikan Budi Pekerti terus mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat termasuk pemerintah, daerah, provonsi, dan pemerintah pusat. Pendidikan Budi Pekerti (Pendidikan Trapsila) yang kelahirannya dibidani atas kerja sama dengan UNICEF terus melakukan berbagai terobosan. Beberapa pelatihan bagi pendidik/guru telah dilakukan pada tingkat Kota Cirebon. Pelatihan-pelatihan ini biasanya difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kota Cirebon, setiap tahunnya.
Selain itu, setelah dana pendampingan dari UNICEF tidak ada, melalui MGMPnya, Pendidikan Budi Pekerti juga mendapat bantuan dana blockgrand dari LPMP Jawa Barat (2011) dan dari P2TK Kemendikbud (2012).
C.      Kendala-Kendala
Bukannya tanpa kendala atau permasalahan dalam perjalanan implementasi Pendidikan Budi Pekerti. Pendidikan Budi Pekerti yang pada tingkat Kota Cirebon diakui sebagai mata pelajaran yang mandiri atau diajarkan secara terpisah, kerap berbenturan dengan kebijakan pusat yang mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran sehingga ada kegamangan tersendiri bagi para pengajar Pendidikan Budi Pekerti. Berikut beberapa kendala atau permasalahan yang kerap muncul dalam Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti.
1.       Dianggap menambah beban kurikulum (jam belajar siswa)
2.       Materi masih terkesan mengambil dari berbagai pelajaran yang lain
3.       Tenaga pengajar masih kerap berganti-ganti dan banyak/tidak ada yang berlatar belakang Pendidikan Budi Pekerti
4.       Pendidikan Budi Pekerti lebih sering diisi sebagai mata pelajaran pelengkap untuk memenuhi jam mengajar.
5.       Penilaian keberhasilan masih sarat bersifat kognitif sehingga cenderung terjebak pada hafalan materi.

D.      Tantangan Kurikulum
Wacana perubahan kurikulum 2013 setidaknya memberikan beberapa konsekuensi. Konsekuensi yang dimaksud dapat berupa penghapusan Pendidikan Budi Pekerti sebagai muatan lokal karena beberapa mata pelajaran pokok mendapatkan tambahan jam belajar. Konsekuensi lainnya adalah Pendidikan Budi Pekerti akan semakin mendapatkan perhatian khusus karena penanaman nilai semakin diutamakan seperti pada gambar berikut.

Gambar 1

Dalam gambar tersebut terdapat salah satu kelemahan kurikulum 2006 yang masih ada beberapa kompetensi yang dianggap belum belum sesuai dengan perkembangan kebutuhan (point 4).
Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4


E.       Peluang Pendidikan Budi Pekerti
Jika melihat pola pembelajaran yang ditawarakan dalam kurikulum 2013 yang bermuara pada perubahan perilaku atau akhlak, Pendidikan Budi Pekerti masih memiliki peluang untuk terus diterapkan dalam proses belajar mengajar.  Pendidikan Budi Pekerti akan tetap mendapatkan porsi yang signifikan demi perbaikan akhlak dan nilai generasi muda.

Sumber gambar: Kemendikbud

Senin, 09 Juli 2012

Dimensi Sarana dan Prasarana dalam Manajemen Pendidikan


 Dimensi Sarana dan Prasarana dalam Manajemen Pendidikan
Oleh: Daryo Susmanto, S.Sos.
Salah satu komponen pendidikan yang sangat urgen dalam kegiatan pembelajaran di sekolah diantaranya yaitu ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan berkualitas. Sarana pendidikan merupakan segala perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Sarana pembelajaran sangat menentukan kondisi pembelajaran, karena dengan tersedianya sarana pembelajaran yang variatif dan inovatif maka akan mendukung suasana belajar yang kondusif. Begitu juga dengan berbagai macam prasarana pendidikan. Meskipun prasarana pendidikan tidak dipergunakan langsung dalam kegiatan pembelajran, ketersediaan prasarana juga mendukung kelancaran proses pembelajaran di sekolah.
Lembaga pendidikan khususnya jalur pendidikan formal harus mampu mengelola sarana dan prasarana pendidikan dengan menerapkan konsep Manajemen Sarana dan Prasarana dari mulai Perencanaan Kebutuhan, Pengadaan, Pemeliharaan hingga Penghapusan Sarana dan Prasarana. Dengan menerapkan pola manajemen yang tepat maka diharapakan sekolah akan mampu memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang tidak hanya kuantitasnya banyak tetapi juga sarana dan prasarana yang berkualitas.
Penerapan konsep manajemen untuk mengelola sarana dan prasarana akan mampu memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran di kelas. Sehingga apabila tujuan instruksional telah tercapai maka diharapkan akan mendukung terhadap ketercapaian tujuan institusional (sekolah). Dan apabila setiap unit lembaga pendidikan telah mampu mencapai tujuan institusional, maka pada akhirnya diharapkan akan mampu mencapai tujuanpendidikan nasional. Oleh karena itu, mengingat pentingnya pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan, maka makalah ini diberi judul “Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan”.
Apa yang dimaksud sarana dan prasarana? Secara Etimologis (bahasa) sarana berarti semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan untuk mencapai tujuan  pendidikan, misalnya : gedung, ruang, buku, perpustakaan, alat-alat/media pendidikan, meja, kursi, laboratorium dsb. Sedangkan prasarana berarti fasilitas yang secara tidak langsung menunjang tercapainya tujuan dalam pendidikan, misalnya: lokasi/tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, uang, halaman, kebun/taman sekolah dsb.
Sarana dan prasarana pendidikan mencakup juga alat-alat bantu dalam pembelajaran. Umumnya berbentuk perangkat keras yang dibutuhkan untuk kelancaran proses pembelajaran. Misalnya papan tulis dan perlengkapannya, meja, kursi, besar ruangan belajar, lampu peneranganmedia pelajaran perlu ditetapkan dengan standar untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang ada di sekolah yang harus dikelola secara efektif dan efisien. Sehingga ketersediaan sumber daya sarana dan prasarana tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan khsusnya di tingkat institusi sekolah.
Menurut Suharno (2008: 31) “Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran”. Dengan demikian sarana pendidikan adalah berbagai macam peralatan dan perlengkapan yang digunakan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Keberadaan sarana pendidikan yang berkualitas sangat mendukung terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Karena kelancaran kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari peranan dan fungsi sarana pendidikan. Sehingga apabila sarana pendidikan tidak tersedia dengan lengkap maka akan menggangu kelancaran kegiatan belajar mengajar. Sehingga dalam skala mikro apabila sarana pendidikan tidak tersedia dengan lengkap maka akan menggangu pencapaian tujuan pembelajaran. Dan pada akhirnya terganggunya pencapaian tujuan pembelajaran akan menggangu ketercapaian tujuan institusional. Dan pada skala makro, tidak tersedianya sarana pendidikan yang memadai akan mengganggu ketercapaian tujuan pendidikan. Sehingga dengan tidak tersedianya sarana pendidikan akan menyebabkan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara maksimal. Dengan demikian sarana pendidikan merupakan salah satu unsur vital dalam kegiatan pendidikan pada tataran mikro di tingkat sekolah. Sebagai contoh, apabila di sekolah tidak tersedia buku paket maka siswa akan kesulitan dalam belajar karena tidak memiliki buku sumber. Hal itu terrjadi khususnya di sekolah-sekolah tertentu yang belum memiliki fasilitas belajar secara digital seperti jaringan internet. Apabila tidak ada sumber belajar maka siswa tidak akan belajar secara optimal, sehingga pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak mampu terrcapai secara optimal. 
Selain harus ditunjang oleh ketersediaan berbagai macam sarana, keberlangsungan kegiatan pendidikan juga ditunjang oleh ketersediaan berbagai macam prasarana pendidikan. Menurut Suharno (2008: 31)” prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran. Seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperi taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sekaligus sebagai lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan”. Sedangkan menurut Imron (imronfauzi.wordpress.com) “Prasarana berarti alat tidak langsung untukmencapai tujuan dalam pendidikan. misalnya: lokasi/tempat, bangunan sekolah,lapangan olahraga, uang, dan sebagainya”.
Prasarana pendidikan merupakan berbagai macam perlengkapan dan peralatan yang secara tidak langsung menunjang terhadap kelancaran kegiatan pendidikan khsususnya berkaitan dengan kelancaran kegiatan pembelajaran di sekolah. Sebagai contoh, ketersediaan jalan raya akan menunjang kelancaran kegiatan pembelajaran di sekolah meskipun fasilitas jalan raya tidak digunakan langsung dalam kegiatan pembelajaran. Hal itu dikarenakan apabila tidak tersedia jalan raya maka akan menggangku kelancaran perjalanan siswa dari rumah ke sekolah. Sehingga apabila tidak tersedia jalan raya maka siswa tidak akan mampu belajar secara efektif. Pada akhirnya tidak tersedianya fasilitas jalan raya akan menggganggu ketercapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian prasarana pendidikan memiliki peranan yang sangat penting guna menunjang ketercapaian tujuan pendidikan khsususnya pada lingkup mikro di tingkat sekolah.
Kegiatan manajemen sarana dan prasarana pendidikan meliputi kegiatan yang terdapat dalam skema sebagai berikut.
Penentuan kebutuhan akan sarana dan prasaranan berkaitan dengan perencanaan terhadap kebutuhan sarana dan prasarana. Perencanaan sarana dan prasarana persekolahan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses perkiraan secara matang rancangan pembelian, pengadaan, rehabilitasi, distribusi atau pembuatan peralatan dan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Setelah penentuan kebutuhan sarana dan prasarana melalui perencanaan yang matang, kegiatan selanjutnya adalah pengadaan sarana dan prasarana.
Apa yang dimaksud pengadaan? Pengadaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan semua jenis sarana dan prasarana pendidikan persekolahan yang sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks persekolahan, pengadaan merupakan segala kegiatan yang dilakukan dengan cara menyediakan semua keperluan barang atau jasa berdasarkan hasil perencanaan dengan maksud untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Pengadaan sarana dan prasarana merupakan fungsi operasional pertama dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan. Fungsi ini pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan sesuai dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifikasi, jumlah, waktu maupun tempat, dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah pengadaan sarana dan prasarana, kegiatan selanjutnya adalah penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana. Apa itu penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana?
Salah satu permasalah dalam manajemen sarana dan prasarana adalah sekolah mampu membeli atau mengadakan, tetapi tidak mampu menggunakan dan memeliharanya. Kerap sekolah mampu membeli barang tetapi hanya disimpan karena takut rusak atau tidak tahu cara penggunaannya. Penggunaan sarana dan prasarana adalah pemanfaatan terhadap sarana dan prasarana yang ada atau tersedia dalam ligkungan pendidikan atau sekolah.
Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdayaguna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. Pemeliharaan mencakup segala daya upaya yang terus menerus untuk mengusahakan agar peralatan tersebut tetap dalam keadaan baik. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Langkah atau kegiatan selanjutnya adalah pengurusan dan pencatatan sarana dan prasarana. Mengapa diperlukan kegiatan ini? Hal ini karena sebagai berikut.
1.   Menyediakan data dan informasi dalam rangka menentukan kebutuhan dan menyusun rencana kebutuhan barang.
2.   Memberikan data dan informasi untuk dijadikan bahan/pedoman dalam pengarahan pengadaan barang.
3.   Memberikan data dan informasi untuk dijadikan bahan/pedoman dalam penyaluran barang.
4.   Memberikan data dan informasi dalam menentukan keadaan barang (tua, rusak, atau lebih) sebagai dasar untuk menetapkan penghapusannya.
5.   Memberikan data dan informasi dalam rangka memudahkan pengawasan dan pengendalian barang.
Pengurusan dan pencatatan sarana dan prasarana sama dikenal juga dengan istilah inventarisasi barang/ sarana dan prasarana. Apa itu inventarisasi barang atau sarana dan prasarana? Inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan adalah pencatatan atau pendaftaran barang-barang milik sekolah ke dalam suatu daftar inventaris barang secara tertib dan teratur menurut ketentuan dan tata cara yang berlaku. Barang inventaris sekolah adalah semua barang milik negara (yang dikuasai sekolah) baik yang diadakan/dibeli melalui dana dari pemerintah/BOS, DPP maupun diperoleh sebagai pertukaran, hadiah atau hibah serta hasil usaha pembuatan sendiri di sekolah guna menunjang kelancaran proses belajar mengajar. Jadi setiap barang atau sarana dan prasarana yang ada dalam lingkungan sekolah harus diurus dan dicatat.
Kegiatan selanjutnya adalah pertanggungjawaban sarana dan prasarana. Pertanggungjawaban sarana dan prasarana dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan. Pelaporan ini dapat dilakukan setiap saat. Namun secara resmi pelaporan dapat dilakukan dalan triwulan, semester, atau tahunan.
Selain kelima kegiatan tersebut di atas, ada satu kegiatan yang tidak bisa terpisah dari manajemen sarana dan prasarana, yaitu penghapusan sarana da prasarana. Penghapusan sarana dan prasarana merupakan kegiatan pembebasan sarana dan prasarana dari pertanggungjawaban yang berlaku dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara lebih operasional penghapusan sarana dan prasarana adalah proses kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan/menghilangkan sarana dan prasarana dari daftar inventaris, kerena sarana dan prasarana tersebut sudah dianggap tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan terutama untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Penghapusan sarana dan prasarana dilakukan berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.