Beranda

Senin, 15 Juli 2013

KURIKULUM 2013 IPS SMP (KI-KD)



ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS )

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs)
KELAS: VII

KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
1.   Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

1.1         Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala  perubahannya
1.2         Menghargai ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat
1.3         Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2.1         Meniru perilaku jujur, disiplin bertanggung jawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa hindu Buddha dan Islam dalam kehidupannya sekarang
2.2         Menunjukkan perilaku rasa ingin tahu, peduli, menghargai, dan bertanggungjawab terhadap kelembagaan social, budaya, ekonomi dan politik
2.3         Menunjukkan perilaku santun, toleran dan peduli dalam melakukan  interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya
3.   Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

3.1         Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup regional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik)
3.2         Memahami perubahan masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa hindu buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik
3.3         Memahami jenis-jenis kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat
3.4         Memahami pengertian dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi
4.   Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

4.1         Menyajikan hasil pengamatan tentang hasil-hasil kebudayaan dan fikiran  masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa hindu buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik yang masih hidup dalam masyarakat sekarang
4.2         Menghasilkan gagasan kreatif untuk memahamijenis-jenis kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik di lingkungan masyarakat sekitar
4.3         Mengobservasi dan menyajikan bentuk-bentuk  dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar


KELAS: VIII
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
1.   Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.1        Menghayati karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya
1.2        Menghayati ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik  dalam masyarakat
1.3        Menghayati karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2.1        Menunjukkan perilaku bijaksana dan bertanggungjawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa penjajahan dan gerakan kebangsaan dalam menumbuhkan rasa kebangsaan
2.2        Berperilaku jujur, sopan, estetikadan memiliki motivasi internal ketika berhubungan dengan lembaga sosial, budaya, ekonomi dan politik
2.3        Menunjukkan perilaku peduli, gotongroyong, tanggungjawab dalam berpartisipasi penanggulanganpermasalahan lingkungan hidup
3.   Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

3.1        Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup nasional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik)
3.2        Mendeskripsikan perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan serta perubahan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik
3.3        Mendiskripsikan fungsi dan peran kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik  dalam masyarakat
3.4        Mendeskripsikan bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi
4.   Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
4.1        Menyajikan hasil olahan telaah tentang peninggalan kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik yang ada di lingkungan sekitarnya
4.2        Menggunakan berbagai strategi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan fungsi  peran kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik di lingkungan masyarakat sekitar
4.3        Menyajikan hasil pengamatan tentang bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar


KELAS: IX
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
1.   Menghargai dan menghayatiajaran agama yang dianutnya
1.1         Mensyukuri karunia Tuhan YME yang telah memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik
1.2         Mensyukuri adanya kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik  dalam masyarakat yang mengatur kehidupan manusia dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia
1.3         Mensykuri karunia dan rahmat Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya

2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
2.1         Menunjukkan perilaku cinta tanah air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai perwujudan rasa nasionalisme
2.2         Memiliki kepedulian dan penghargaan terhadaplembaga sosial, budaya, ekonomi dan politik
2.3         Memiliki rasa tanggungjawab, peduli, percaya diri dalam mengembangkan pola hidup sehat, kelestarian lingkungan fisik, budaya, dan peninggalan berharga di masyarakat
3.   Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

3.1         Menerapkan aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam mewujudkan kesatuan wilayah Nusantara yang mencakup perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik)
3.2         Menelaah perubahan masyarakat Indonesia dari masa pergerakan kemerdekaan sampai dengan awal reformasi dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik dalam wawasan kebangsaan
3.3         Membandingkan manfaat kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik  dalam masyarakat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
3.4         Membandingkan landasan dari dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi
4.   Mengolah, menyaji, dan menalardalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
4.1         Menyajikan hasil olahan telaah tentanghasil-hasil kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan sampai sekarang dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
4.2         Merumuskan alternatif  tindakan nyata dalam mengatasi masalah yang kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
4.3         Merumuskan alternatif  tindakan nyata dan melaksanakannya sebagai bentuk partisipasi dalam mengatasi masalah lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi sebagai akibat adanya dinamika interaksi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara


KI dan KD ini

Jumat, 18 Januari 2013

Quo Vadis Pendidikan Budi Pekerti



QUO VADIS PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
OLEH: DARYO SUSMANTO, S.Sos


A.      Latar Belakang
Pentingnya akhlak mulia, moral yang baik, dan budi pekerti yang luhur tidak dapat dipungkiri oleh semua masyarakat atau warga Negara. Orangtua manapun pasti menginginkan anaknya menjadi anak bermoral, anak yang saleh, dan berbudi pekerti luhur. Kondisi ini membawa pada kondisi ideal bahwa setiap anak akan diinternalisasi oleh nilai-nilai moral yang tinggi baik yang berdasarkan nilai-nilai keagamaan maupun nilai-nilai kemasyarakatan. 
Persoalan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter menguat kembali saat masyarakat mulai menilai bahwa permasalahan-permasalahan yang muncul dalam masyarakat, seperti korupsi, kenakalan remaja, tawuran antarpelajar, tawuran antarkelompok masyarakat, geng motor, perilaku seks bebas/menyimpang, penyalahgunaan narkoba, perilaku menyimpang pejabat publik, dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya terjadi karena kurangnya penanaman nilai dalam masyarakat sejak usia dini atau remaja. Penanaman nilai ini terjadi dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Persoalan yang muncul di masyarakat seperti tersebut di atas menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti melalui peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah moral bangsa yang dibicarakan itu adalah melalui pendidikan.
Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif  karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat serta lama di dalam masyarakat.
                Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan budi pekerti muncul kembali. Terlepas dari pro dan kontra, kenyataannya Pendidikan Budi Pekerti kemudian menjadi salah satu mata pelajaran yang ikut mengawal penanaman nilai-nilai terhadap peserta didik. Tentunya dengan berbagai persoalan dan kendala yang tidak sedikit.
B.      Pendidikan Budi Pekerti di Cirebon
Sebagai salah satu mata pelajaran muatan local, Pendidikan Budi Pekerti terus mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat termasuk pemerintah, daerah, provonsi, dan pemerintah pusat. Pendidikan Budi Pekerti (Pendidikan Trapsila) yang kelahirannya dibidani atas kerja sama dengan UNICEF terus melakukan berbagai terobosan. Beberapa pelatihan bagi pendidik/guru telah dilakukan pada tingkat Kota Cirebon. Pelatihan-pelatihan ini biasanya difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kota Cirebon, setiap tahunnya.
Selain itu, setelah dana pendampingan dari UNICEF tidak ada, melalui MGMPnya, Pendidikan Budi Pekerti juga mendapat bantuan dana blockgrand dari LPMP Jawa Barat (2011) dan dari P2TK Kemendikbud (2012).
C.      Kendala-Kendala
Bukannya tanpa kendala atau permasalahan dalam perjalanan implementasi Pendidikan Budi Pekerti. Pendidikan Budi Pekerti yang pada tingkat Kota Cirebon diakui sebagai mata pelajaran yang mandiri atau diajarkan secara terpisah, kerap berbenturan dengan kebijakan pusat yang mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran sehingga ada kegamangan tersendiri bagi para pengajar Pendidikan Budi Pekerti. Berikut beberapa kendala atau permasalahan yang kerap muncul dalam Mata Pelajaran Pendidikan Budi Pekerti.
1.       Dianggap menambah beban kurikulum (jam belajar siswa)
2.       Materi masih terkesan mengambil dari berbagai pelajaran yang lain
3.       Tenaga pengajar masih kerap berganti-ganti dan banyak/tidak ada yang berlatar belakang Pendidikan Budi Pekerti
4.       Pendidikan Budi Pekerti lebih sering diisi sebagai mata pelajaran pelengkap untuk memenuhi jam mengajar.
5.       Penilaian keberhasilan masih sarat bersifat kognitif sehingga cenderung terjebak pada hafalan materi.

D.      Tantangan Kurikulum
Wacana perubahan kurikulum 2013 setidaknya memberikan beberapa konsekuensi. Konsekuensi yang dimaksud dapat berupa penghapusan Pendidikan Budi Pekerti sebagai muatan lokal karena beberapa mata pelajaran pokok mendapatkan tambahan jam belajar. Konsekuensi lainnya adalah Pendidikan Budi Pekerti akan semakin mendapatkan perhatian khusus karena penanaman nilai semakin diutamakan seperti pada gambar berikut.

Gambar 1

Dalam gambar tersebut terdapat salah satu kelemahan kurikulum 2006 yang masih ada beberapa kompetensi yang dianggap belum belum sesuai dengan perkembangan kebutuhan (point 4).
Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4


E.       Peluang Pendidikan Budi Pekerti
Jika melihat pola pembelajaran yang ditawarakan dalam kurikulum 2013 yang bermuara pada perubahan perilaku atau akhlak, Pendidikan Budi Pekerti masih memiliki peluang untuk terus diterapkan dalam proses belajar mengajar.  Pendidikan Budi Pekerti akan tetap mendapatkan porsi yang signifikan demi perbaikan akhlak dan nilai generasi muda.

Sumber gambar: Kemendikbud