Senin, 04 Juni 2012

Asal-Usul Kehidupan dan Asal-Usul Manusia


Pandangan Bibel, Al-Qur-an, dan Sains  
terhadap Asal-Usul Kehidupan dan Asal-Usul Manusia.

Bibel menyebutkan secara tegas tentang penciptaan alam bahwa penciptaan alam itu terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti  hari-hari dalam satu minggu. Cara  meriwayatkan seperti ini telah dilakukan oleh para pendeta pada abad keenam sebelum Masehi, dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktikkan istirahat pada hari Sabtu. Setiap orang Yahudi harus istirahat pada hari Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan setelah bekerja selama enam hari.
Dalam Al-Quran tentang penciptaan alam (langit dan bumi) disebutkan dalam waktu enam hari (masa) juga, yaitu lengkapnya sebagai berikut:
Artinya: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-A’raaf [7]: 54).
Dalam penciptaan langit dan bumi, Al-Quran menyebutkan bahwa dulunya langit dan bumi adalah menyatu yang kemudian dipisahkan oleh Allah SWT.
Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 30).
      Sementara itu, sains modern telah menemukan sebuah teori awal terjadinya alam semesta yang dikenal dengan teori Big Bang atau ledakan dahsyat. Menurut model ledakan dahsyat, alam semesta mengembang dari keadaan awal yang sangat padat dan panas dan terus mengembang sampai sekarang. Secara umum, pengembangan ruang semesta yang mengandung galaksi-galaksi dianalogikan seperti roti kismis yang mengembang.
      Berkaitan dengan penciptaan manusia, Al-Kitab menyebutkan dalam Kejadian 1:26,27 bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang membawa rupa dan gambar-Nya.  Kalau Allah berpribadi, maka manusia juga berpribadi. Allah memberikan berbagai potensi dalam diri manusia, seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir, merasakan, juga berbuat, agar mempermuliakan Dia.
Sementara dalam Kejadian 2:7 mengemukakan bahwa manusia yang diciptakan Allah itu terbentuk dari debu tanah dan padanya dihembuskan nafas kehidupan (dalam bahasa Ibrani disebut nefes hayyah). Jika demikian, manusia sebagai individu (pribadi) memiliki dimensi fisik (jasmani) yang terikat kepada alam. Di samping itu, manusia memiliki aspek non-fisik atau rohani (spiritual).  Adanya nefes hayyah itu membuat manusia membutuhkan Allah di dalam seluruh kehidupannya.
Adapun penciptaan manusia dalam Al-Quran disebutkan di beberapa ayat. Antara lain dalam ayat berikut.
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr [15]: 26).
Dalam hal reproduksi, Al-Quran juga menyebutkannya dalam ayat berikut.
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1535] yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. Al-Insaan [76]: 2).
Adapun penciptaan manusia (reproduksi) menurut sains sudah begitu jelas, baik dilihat dari ilmu Biologi maupun Ilmu Kedokteran.
Persamaan dan Perbedaan Ketiga Titik Pandang Bible, Al-Quran, dan Sains
Enam hari Bibel berarti enam hari dalam kehidupan nyata seperti sekarang ini. Kata "hari" dalam Bibel berarti masa antara dua terbitnya matahari berturut-turut atau dua terbenamnya matahan berturut-turut. Hari yang difahami secara ini ada hubungannya dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang bahwa menurut logika orang tidak dapat memakai kata "hari" dalam arti tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari, yakni adanya  Bumi  serta beredarnya sekitar matahari, belum terciptakan pada tahap-tahap pertama daripada Penciptaan menurut riwayat Bibel.
Sementara dalam Al-Quran enam hari yang dimaksud bukan enam hari perhitungan manusia, tetapi enam hari (masa) perhitungan Allah SWT. Hal ini Karena arti ayyam dalam Al-Quran bisa diartikan sebagai periode. Allah berfirman:
Artinya: Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al-Hajj [22]: 47).
Atau dalam ayat lainnya:
Artinya: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. As-Sajdah [32]: 5).
Dan satu ayat lainnya:
Artinya: Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. Al-Ma’aarij [70]: 4).
Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi, menurut Al-Quran, meliputi terbentuknya benda-benda samawi, terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat dihuni manusia. Untuk hal yang terakhir ini, Al-Quran mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam sains modern, karena menurut sains modern, manusia timbul pada zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak ada jawaban terhadap soal ini. Untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4, diperlukan dua tahap.
Sebagai contoh, sains menjelaskan bahwa pembentukan matahari dan embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan (kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya (yang selanjutnya dikenal juga sebagai teori big bang). Ini adalah yang dikatakan oleh Al-Quran secara jelas dengan proses yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang sempurna antara penjelasan Al-Quran dan penjelasan Sains. Sementara. Dalam Bibel sendiri tidak ditemukan hal itu.
      Dalam hal asal-usul manusia, Bibel menjelaskan manusia diciptakan dari debu dan serupa dengan Penciptanya. Sedangkan menurut Al-Quran, manusia diciptakan dari saripati tanah dan tidak menyerupai Penciptanya (QS. Al-Ikhlas [112]: 4).

Sumber Bacaan Jawaban Nomor 3
Al-Quran Digital versi 2.1.
Anonim. 2010. Teori Big Bang Tercantum dalam Al-Quran. http:// www.artikelislami.com
Anonim. Ledakan Dahsyat. http://id.wikipedia.org.
B.S. Sidjabat. Manusia menurut Alkitab dan Aplikasinya bagi Prinsip Belajar. http://www.inkribs.org.
Bucaille, Maurice. 1979.  Bibel, Quran, dan Sains Modern. http://media.isnet.org/ Islam/Bucaille/BQS/index.html.
Bucaille, Maurice. 1994.  Asal Usul Manusia menurut Bibel, Quran, dan Sains. http://www.reocities.com 
Younker, Randall W. Penciptaan menurut Alkitab. http://dianweb.org.

1 komentar:

  1. Keberhasilan penciptaan yang terjadi pada saat ini tidak lepas dari keberhasilan penciptaan sebelumnya. Manusia yang tercipta sekarang dengan segala kesempurnaannya adalah keberhasilan penciptaan sebelumnya. Manusia yang tercipta sekarang harus mengingat penciptaannya 6,5 juta tahun yang lalu. Allah tidak menyegerakan penciptaan. Atas kehendak-Nya penciptaan itu berlangsung dalam masa yang begitu panjang, dalam masa makrokosmos yang tak terukur (baca: manusia takkan mampu mengukurnya). Subhanallaah.

    BalasHapus